RSS Subscribe

healhty life

Hi, I am your doctor

I am not really sure how I got interested in medicine. But is has been my calling.

What greater gift than the love of a cat

Just watching my cats can make me happy. No matter how much cats fight, there always seem to be plenty of my kittens.

The ocean is where I belong

Salt in the air. Sand in my hair. Life is better in the beach.

Healthy's the new sexy

Love yourself enough to live a healthy lifestyle.

I am a chef in my kitchen kingdom

'Chef' doesn't mean that you're the best cook, it simply means 'boss.'

Kamis, 24 Oktober 2013

ANEMIA DEFISIENSI BESI DAN PENATALAKSANAANYA PADA WANITA SUBUR, IBU HAMIL DAN ANAK

Anemia gizi yang disebabkan kekurangan zat besi masih merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Terjadinya defisiensi besi pada wanita subur, ibu hamil dan anak- anak antara lain disebabkan jumlah zat besi dan vitamin C yang diabsorbsi sangat sedikit, tidak cukupnya zat besi yang masuk karena rendahnya bioavailabilitas makanan yang mengandung besi , karena hanya terdiri dari nasi atau umbi-umbian dengan kacang-kacangan an sedikit (jarang sekali) daging, ayam atau ikan, serta dapat disebabkan kenaikan kebutuhan besi selama hamil,periode pertumbuhan dan pada waktu haid.

ANEMIA PADA WANITA SUBUR
Berdasarkan penelitian, prevalensi anemia pada wanita lebih besar dibandingkan dengan pria, oleh karena usia reproduksi sesuai dengan kodratnya, harus mengalami haid setiap bulannya. Darah yang keluar pada waktu haid menyebabkan kehilangan zat besi 1.3 mg per hari.

Zat besi di dalam bahan makanan dapat berbentuk hem yang berikatan dengan protein dan terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari hewani. Lebih dari 35% hem ini dapat di absorpsi langsung. Bentuk lain adalah dalam bentuk nonhem yaitu senyawa besi anorganik yang kompleks yang terdapat di dalam bahan makanan yang berasal dari nabati, yang hanya apat diabsorbsi sebanyak 5%. Salah satu faktor penghambat penyerapan zat besi antara lain minum air teh, soda, alkohol, rokok.

Penanganan defisiensi besi dengan pemberian suplementasi tablet besi merupakan cara yang paling efektif untuk meningkatkan kadar Fe/besi dalam jangka waktu yang pendek.


Ternyata dengan pemberian Tablet Tambah Darah 1 tablet setiap minggu dan satu tablet setiap hari selama 10 hari (waktu haid), dalam jangka waktu 16 minggu dapat meningkatkan kadar Hb, hemoglobin dan serum ferritin.

Bila dilihat hasil penelitian pemberian tambahan 100 mg vitamin C dapat membantu transfer zat besi dari darah ke dalam bentuk ferritin untuk disimpan di hati dan membantu memproduksi beberapa enzim yang mengandung besi. Jika terdapat sekitar 25 sampai 30 mg vitamin C dalam menu makanan akan dapat meningkatkan absorbsi zat besi dalam hidangan sebesar 85%. Sedangkan jika terdapat 25-75 mg vitamin C dalam menu makanan yang dikombinasikan dengan 24-36 gram meat faktor dapat meningkatkan absorbsi zat besi non heme sebesar 8%.


ANEMIA PADA ANAK
Ada beberapa penyebab anemia yang telah didokumentasikan dalam literatur, meliputi : asupan zat besi yang kurang, infeksi berbagai macam cacing, malaria dan beberapa penyakit lainnya.

Besi merupakan salah satu zat gizi mikro yang mempunyai pengaruh luas dalam aktivitas metabolisme tubuh dan sangat penting dalam proses pertumbuhan. Masa bayi dan anak-anak merupakan masa pertumbuhan yang cepat. Anak usia sekolah dasar yaitu antara umur 6-11 tahun merupakan masa saat mereka mengalami growth spurt (percepatan pertumbuhan) yang kedua setelah masa balita. Kelompok ini rentan terhadap anemia zat besi karena kebutuhan zat besi selama masa ini meningkat dengan adanya pertumbuhan
jaringan yang cepat dan kenaikan massa sel darah merah.

Anemia besi yang terjadi pada masa bayi dan anak-anak berdampak pada perkembangan mental dan motorik yang kemungkinan akan mempunyai dampak pada masa selanjutnya.

Ternyata dengan pemberian Tablet Tambah Darah 1 tablet setiap minggu dapat meningkatkan kadar Hb, apalagi bagi yang menderita anemia pemberian suplemen besi pada anak mengalami perubahan kadar hemoglobin dengan perubahan kadar hemoglobin rata-rata minimal -0,30 g/dL, maksimal 4,30 g/dL. Sebesar 75,7 % anak berubah status dari anemia menjadi tidak anemia.

Suplementasi TTD dapat meningkatkan kadar Hb yang diikuti dengan peningkatan berat badan. Peningkatan berat badan tersebut disebabkan karena peningkatan kadar Hb dalam darah. Dengan meningkatnya kadar Hb akan menyebabkan oksigenasi sel menjadi lebih baik, metabolisme meningkat dan fungsi sel akan optimal sehingga daya serap makanan lebih baik dan timbul rasa lapar sehingga nafsu makan bertambah yang menyebabkan asupan makanan meningkat dan terjadi kenaikan berat badan.


ANMENIA PADA IBU HAMIL
Upaya pencegahan telah dilakukan dengan pemberian tablet besi selama kehamilan. Akan tetapi hasilnya belum memuaskan. karena dalam kehamilan, terjadi peningkatan absorpsi dan kebutuhan besi dimana total besi yang dibutuhkan adalah sekitar 1000 mg . Kebutuhan yang tinggi dimana cadangan besi tbuh kosong maka hal ini tidak dapat dipenuhi melalui diet besi harian dan juga oleh besi suplemen.

Menurut teori tersebut, supelemen besi seharusnya diberikan pada periode sebelum hamil untuk mengantisipasi rendahnya cadangan besi tubuh.Kegagalan ini mungkin diakibatkan oleh rendahnya bahkan kosongnya cadangan besi tubuh sewaktu pra-hamil, terutama di negara sedang berkembang. Oleh karena itu, suplemen besi yang hanya diberikan waktu kehamilan tidak cukup untuk mencegah terjadinya Anemia defisiensi besi, Tablet besi (200 mg ferrous sulfate).

Pada penelitian ini didapatkan bahwa pemberian tablet besi pada pra-hamil dapat menurunkan prevalensi enemia lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian tablet besi yang dimulai saat kehamilan (0% vs 38.46%, p<0.05). Salah satu efek Anemia defisiensi besi (ADB) adalah kelahiran premature dimana hal ini berasosiasi dengan masalh baru seperti berat badan lahir rendah, defisiensi respon imun dan cenderung mendapat masalah psikologik dan pertumbuhan. Apabila hal ini berlanjut maka hal ini berkorelasi dengan rendahnya IQ dan kemampuan belajar. Semua hal tersebut mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia, produktivitas dan implikasi ekonomi. cara penanganannya dengan memberikan tablet besi folat (Tablet Tambah Darah/TTD) yang mengandung 60 mg elemental besi dan 250 ug asam folat) 1 tablet selama 90 hari berturut-turut selama masa kehamilan. KESIMPULAN
1. Salah satu faktor penghambat penyerapan zat besi antara lain minum air teh, kurang makan daging, kurang konsumsi vitamin C
2. Suplemen zat besi mengurangi risiko kekurangan zat besi dan anemia pada anak dengan berat lahir rendah sedikit
3. dengan pemberian Tablet Tambah Darah 1 tablet setiap minggu dan satu tablet
setiap hari selama 10 hari (waktu haid), dalam jangka waktu 16 minggu dapat meningkatkan kadar Hb, hemoglobin dan serum ferritin.
4. Pemberian TTD ditambah 100 mg vitamin C meningkatkan kadar
hemoglobin dan serum ferritin secara bermakna.
5. Pemberian TTD meningkatkan kadar hemoglobin dan serum
ferritin secara bermakna.
6. Suplementasi TTD dapat meningkatkan kadar Hb yang diikuti dengan peningkatan berat badan. Peningkatan berat badan tersebut disebabkan karena peningkatan kadar Hb dalam darah. Dengan meningkatnya kadar Hb akan menyebabkan oksigenasi sel menjadi lebih baik, metabolisme meningkat dan fungsi sel akan optimal sehingga daya serap makanan lebih baik dan timbul rasa lapar sehingga nafsu makan bertambah yang menyebabkan asupan makanan meningkat dan terjadi kenaikan berat badan



SARAN
1. Minum pil Tablet Tambah Darah ditambah vitamin C seminggu sekali 1 tablet, terutama pada waktu haid setip hari 1 kali selama 10 hari. (sesuai pedoman GPWSP).
Pekerja harus aktif untuk minum TTD dan vitamin C sesuai anjuran dari poliklinik kesehatan.
2. WHO menganjurkan program standar untuk mengontrol ADB pada wanita hamil, “iron pills program”. Setiap wanita hamil akan diberikan 90 tablet besi (66 mg sulfas ferosus dikombinasikan dengan asam folat).
3. program pemberian tablet besi tidak cukup untuk memenuhi cadangan besi tubuh selama masa kehamilan. Pemberian tablet besi sejaka masa prahamil dibutuhkan untuk mengisi cadangan besi dan memenuhi peningkatan kebutuhan besi selama kehamilan.



DAFTAR PUSTAKA
Mulyawati, Yeni., 2003, Tesis Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Perbandingan Efek Suplementasi Tablet Tambah Darah dengan dan tanpa Vitamin C Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Pekerja Wanita di Perusahaan Plywood., Jakarta.,
http://www.gizi.net/lain/gklinis/Abstrak-yenni.pdf

Luh Seri Ani, I Made Bakta, INT Suryadhi, I N Agus Bagiada., Doctorate Program in Medicine, School for Postgraduate Study, Udayana University., Pebandingan Efek Suplemen Besi Pra-Hamil dan Selama Kehamilan dalam Upaya Menurunkan Anemia Defisiensi Besi pada Wanita Hamil dengan Anemia Ringan di Bali., http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/e_journal_sriani_ilmu_kedoktrn_baru.pdf

Suplemen zat besi mengurangi risiko kekurangan zat besi dan anemia pada anak dengan berat lahir rendah sedikit, http://www.news-medical.net/news/20100906/9/Indonesian.aspx?page=2

Zulaekah, Siti., Widiyaningsih., Endang Nur., Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta., Daya Terima dan Pengaruh Suplementasi Fe dalam Bentuk Permen Pada Anak Sekolah Dasar yang Anemia., http://eprints.ums.ac.id/1371/

Kamis, 31 Maret 2011

VALIDASI HASIL PEMERIKSAAN URINE

Validasi hasil pemeriksaan
Definisi : upaya memantapkan kualitashasil pemeriksaan yang telah diperoleh
Tujuan :
1. Hasil pemeriksaan menggambarkan kondisi yang sebenarnya
2. Mencegah keragu-raguan atas hasil laboratorium yang dikeluarkan?
Apa saja yang divalidasi?
•Linearitas
•Range (rentang)
•Presisi (ketelitian)
•Akurasi (ketepatan)
•Spesifisitas
•Sensitifitas

LINEARITAS dan RENTANG
LINEARITAS : Kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel
RENTANG : pernyataan batas terendah dan batas tertinggi analit






BAGAIMANA MENDAPATKAN HASIL YANG VALID ?
MENJALANKAN SEMUA TAHAPAN PEMERIKSAAN DENGAN BENAR




PRA ANALITIK
Penundaan pemeriksaan menyebabkan :
1. Perubahan fisik urin :
a. Warna : ok oksidasi/reduksi
bilirubin --→ biliverdin,
Hb --→ metHb
urobilinogen---→ urobilin
b. Kejernihan : keruh oleh karena proliferasi bakteri, presipitasi kristal, amorf
c. Bau : peningkatan bau oleh karena proliferasi bakteri (Pseudomonas) atau dekomposisi urea

2. Penurunan :
a. Bilirubin + --→ hidrolisis/oksidasi --→ bilirubin –
b. Urobilinogen --→ oksidasi --→ urobilin
c. Keton + --→ keton menurun
d. Lisis eritrosit, esterase meningkat
e. Glukosa + --→ glukosa menurun (glikolisis)

3. Pembentukan NH4 + CO2 --→ pH urin alkali :
a. Silinder rusak
b. Pengendapan ca fosfat, Mg fosfat




MAKROSKOPIS
1. Warna urin : kuning muda – kuning perhatikan perubahan warna urin oleh karena
obat-obatan
2. Busa : normal warna putih penyebab busa : protein, bilirubin
3. Kejernihan : normal urin jernih perhatikan adanya kontaminasi feses Kriteria :
jernih, agak berawan, berawan, keruh
4. Bau : aromatic odor (bukan hal yang dilaporkan rutin). Perhatikan adanya bau
dari makanan
5. Konsentrasi : 94% air + 6 % bahan terlarut bahan terlarut tergantung :
diet, aktivitas, kesehatan
6. BJ : 1000-1030
a. diukur dengan : urinometer, refraktometer, carik celup
b. Dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan pemekatan ginjal
c. Urin sewaktu BJ > 1025 fx pemekatan baik
7. Volume : 600-1800 mL
a. Dipengaruhi diet, aktivitas, kesehatan
b. Volume > 500 mL pada malam hari ; nokturia
c. Poliuria : > 3000 mL/ hari
d. Oligouria : < 400 mL/hari


KIMIAWI URIN
1. BERAT JENIS
a. Prinsip : perubahan pKa --→ ion H+
b. Rendah palsu : glukosa, urea > 1 g/dL pH > 6,5
c. Tinggi palsu : protein 100-500 mg/dL asam laktat, keton
d. BJ < 1000 : cek ulang apakah urin BJ > 1040 : kontras radiologi, manitol (periksa BJ dengan osmometri)

2. pH :
a. Prinsip : methyl red brom thymol blue + urin --→ hijau – biru pH 5 – 8,5
b. Normal : 4,5 - 8,5 bila pH < 4,5 atau > 8,5 cari penyebab < 4,5 :
urin terdilusi > 8,5 : urin lama, obat
c. PH alkali ; batu fosfat, CaCO3 asam : batu urat, sistein, ca oksalat

3. DARAH SAMAR
a. Prinsip :



b. Mikroskopis : eritrosit 5 –15 eri / uL
c. Kimia (carik celup) : Hb, eritrosit, mioglobin
d. Positif palsu : peroksidase bakteri, hipoklorit
e. Negatif palsu : vitamin C, tetrasiklin, bj tinggi, captopril
f. Eritrosit lisis pada urin yang BJ rendah, urin alkali
g. Hasil perlu konfirmasi dengan sedimen, plasma pasien

4. ESTERASE LEUKOSIT
a. Prinsip :



b. Hasil : negatif tidak meniadakan adanya leukosit
c. Perlu urin segar
d. Mendeteksi hanya granulosit
e. Positif : peradangan saluran kemih
f. + palsu : warna urin oleh karena obat, bit, kontaminasi leukosit
g. - palsu : limfosit, glukosa > 3g/dL, protein > 500 mg/dL BJ tinggi,
detegen, sabun, gentamisin
h. Perlu konfirmasi mikroskopis

5. NITRIT
a. Prinsip :



b. Positif : bakteriuria > 105 / mL urin
c. Kuman : Escherichia, Enterobacter / Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, Staphylococcus
d. Negatif : belum tentu tidak ada bakteriuria
•Urin harus dalam buli-buli 4 jam
•Bakteri tidak membentuk reduktase
•Tidak terdapat nitrat dalam urin
e. Hasil : -(negatif), + (positif)
f. Positif palsu : warna urin ok obat fenazopiridin, bit, urin lama
g. Negatif palsu : vitamin C > 25 mg/dL

6. PROTEIN
a. Prinsip



b. Normal : < 150 mg / 24 jam
c. - + ++ +++ ++++
<30 30 100 300 >1000
d. Positif palsu : mengandung senyawa NH4, urin alkali warna urin oleh karena obat
e. Negatif palsu : adanya protein selain albumin,perlu konfirmasi tes asam sulfosalisil

7. GLUKOSA
a. Prinsip :



b. Negatif palsu :
•vitamin C > 50 mg/dL
•tetrasiklin (antioksidan)
•Benda keton > 4 mmol /L
•BJ urin meningkat
•urin lama
c. Positif palsu :
•sisa detergen / peroksida
•bahan-bahan oksidatif
•dipyrone
•Levodopa
•glutathione
d.glukosa urin belum tentu berkorelasi dengan darah (hiperglikemia tanpa glukosuria)

8. KETON
a. Benda keton : aseton, as aseto asetat, beta OH butirat
b. Prinsip :



c. Positif palsu : levodopa, captopril, phtalein high pigmented urin
d. Negatif palsu : urin BJ meningkat, pH rendah, urin lama
e. Positif : kelaparan, hiperemesis gravidarum, demam, muntah, ketoasidosis ( konfirmasi klinis, glukosa darah

9. UROBILINOGEN
a. Prinsip :



b. Normal: positif < 1 EU /dL
c. Perlu urin segar
d. Positif palsu : p-amino salicylic acid, warna urin
e. Negatif palsu : formalin > 200 mg/dL, urin lama
f. Negatif : sumbatan saluran empedu
g. Ekskresi terbanyak : 14 – 16

10. BILIRUBIN
a. Prinsip :



b. Sensitivitas : 0,4 – 0,8 mg/dL bilirubin
c. Perlu konfirmasi dengan tes Harrison
d. Positif : penyakit jaringan hati
e. + palsu : piridium, indikan, klorpromasin
f. - palsu : vitamin C > 25 mg/dL, nitrit tinggi, urin lama

11. Asam Askorbat




MIKROSKOPIS
1. Eritrosit :
a. Diperiksa dengan pembesaran obyektif 40X
b. sulit membedakan asal penyakit
c. Adanya eritrosit dismorfik (glomerulus)
d. Adanya silinder eritrosit : tubulus/glomerulus
e. Dibedakan dengan jamur dengan as asetat 6 %
h. Korelasi dengan makroskopis dan kimiawi :
•Kimiawi +/sedimen - : lisis, false +
•Kimiawi - / sedimen + : Vit C, salah lihat (jamur, ca oksalat monohidrat
•Sedimen eritrosit +/ proteinuri - :
o darah berasal dari daerah sesudah ginjal / kontaminasi
o blood > 3 dapat mempengaruhi hasil proteinuria
o blood < 3 tidak mempengaruhi hasil proteinuria
i.Benda-benda yang mirip : yeast, kristal ca oksalat, droplet oil, udara, leukosit pada urin yang hipertonik ( pakai as asetat 2 % / toluidin biru)

2. Leukosit :
a. Diperiksa dengan obyektif 40X
b. Bisa bersamaan dengan bakteriuria maupun tidak
c. Infeksi bakteri : leukosit + bakteri
d. Infeksi trikomonas, jamur, chlamydia, mycoplasma virus, TBC : leukosituria tanpa bakteri
e. Korelasi sedimen dan kimiawi :
•Esterase +/ sedimen leukosit - : lisis, false +
•Esterase - / sedimen leukosit + : non granulosit
•sedimen leukosit + bisa disertai/tidak proteinuria

3. Epitel :
a. Diperiksa dengan LPK / obyektif 10 X
b. Lebih banyak pada wanita
c. Dibedakan macam-macam epitel :
•squamosa : uretra, vagina, perineal
•transisional : kaliks ginjal, ureter, bladder
•epitel tubulus : tubulus ginjal
d. Oval fat bodies : epitel tubulus yang mengalami degenerasi lemak

4. Silinder :
a. Dibaca dengan LPK
b. Syarat terbentuknya silinder : pH urin asam, proteinuria, aliran urin lambat
c. Adanya silinder menunjukkan kelainan berasal dari ginjal
d. Normal : silinder hialin 0-1 / LPK
e. Banyaknya silinder menunjukkan beratnya penyakit
f. Peningkatan silinder tetapi tidak patologis ; atlit maraton, terapi diuretik.
g. Korelasi dengan kimiawi/makroskopis urin :
•silinder + / proteinuria +
•proeinuria +/ silinder –

5. Kristal :
a. Urin asam : urat amorf, asam urat, monosodium urat, kalsium oksalat, bilirubin, sistin, cholesterol
b. Urin alkali : amorf fosfat, tripel fosfat, kalsium fosfat, amonium biurat


KESIMPULAN
1. Validasi pemeriksaan urinalisa memerlukan semua tahapan pemeriksaan dengan benar mulai praanalitik, analitik dan pasca analitik
2. Memerlukan pengetahuan mengenai linearitas, range pembacaan, ketelitian, ketepatan, sensitivitas, spesifisitas semua alat, reagensia yang diperlukan
3. Memerlukan pengetahuan mengenai pemeriksaan urinalisa itu sendiri, keterbatasan pemeriksaan, penyebab positif palsu, negatif palsu.

DAFTAR PUSTAKA
oleh Pusparini
Disajikan dalam Seminar Nasional
Patelki 26 Juni 2010

Senin, 17 Januari 2011

KELOID DAN PENATALAKSANAANNYA

Apakah keloid itu?
Keloid atau jaringan parut terjadi karena tidak seimbangnya produksi protein kolagen pada proses penyembuhan luka. Pertumbuhannya melebihi yang dibutuhkan untuk menutup luka. Keloid ini bisa tumbuh terus tak terbatas, kadang ada yang gatal atau nyeri. Keloid dapat dihasilkan dari berbagai jenis luka, termasuk luka garukan, injeksi, gigitan serangga, tatoo, dll. Setiap orang dapat mengalami keloid dan keloid itu juga bisa terjadi di berbagai tempat dalam tubuh. Namun biasanya, orang yang muda dan mereka yang berkulit lebih gelap lebih mudah kena keloid, dan keloid itu lebih sering dijumpai pada bagian tertentu tubuh, seperti : mata, dada, bahu, dan punggung. Seorang yang punya keloid lebih mudah mengalami hal serupa di masa datang, karenanya ia perlu berhati-hati.



Ada jenis lain dari keloid yang disebut Hypertrophic scars. Keloid yang ini biasanya berwarna kemerahan dan lebih tebal, yang kadang terasa gatal atau nyeri. Umumnya juga terjadi pada orang muda dan berkulit lebih gelap.

Apa beda keloid dengan jaringan parut biasa?
Setelah kulit terluka, proses penyembuhan akan meninggalkan jaringan parut. Jaringan parut ini selanjutnya akan membesar dan mengeras namun tetap berada diatas batas luka. Beberapa bulan kemudian, jaringan parut akan mengecil dan menghilang. Pengobatan dengan steroid terkadang akan mempercepat proses ini.

Sebaliknya keloid tumbuh beberapa waktu setelah luka sembuh dan membesar melebihi batas luka. Kemungkinan untuk membesar melebih batas luka inilah yang merupakan perbedaan utama keloid dengan jaringan parut biasa. Keloid biasanya muncul pada luka bekas operasi namun bisa juga tumbuh setelah kulit mengalami peradangan lokal. Hal hal lain yang sering menyebabkan keloid adalah luka bakar dan tindik atau tato.



Apa saja tanda dan gejala keloid?
Gejala dan tanda dari keloid adalah adanya benjolan kemerahan berbentuk kubah, keras, tidak teratur, berbatas jelas, menonjol, pigmentasi, ukurannya jauh lebih besar daripada lukanya sendiri, sifatnya melebar dan meninggi dengan terlihat adanya teleangiectasis. Pada tahap awal benjolan terasa kenyal, gatal, dan nyeri bila disentuh tetapi lama-kelamaan benjolan mengeras dan tidak terasa apa-apa. Perkembangan keloid biasanya cepat, kira-kira dalam jangka waktu bulanan.

Apa sih yang menyebabkan keloid?
Pada suatu luka, proses katabolisme dan anabolisme mencapai keseimbangan kira-kira 6-8 minggu setelah operasi. Pada keadaan normal, luka yang terjadi pada kulit akan membuat sel-sel kulit dan jaringan penghubung (fibroblast) mulai menggandakan diri untuk memperbaiki kerusakan. Pada kasus keloid, terjadi ketidakseimbangan antara pembentukan dan penghancuran (degradasi) kolagen. Meskipun luka sudah tertutup, pertumbuhan yang berlebih terus terjadi sehingga mengakibatkan penumpukan fibroblast dan kemudian penonjolan keluar permukaan kulit yang akhirnya membentuk benjolan di jaringan luka.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keloid antara lain adalah:
1. Genetik dan ras
Keloid berhubungan dengan gen HLA-B14, HLA-B21, HLA-BW16, HLA-BW35, HLA-DR5, HLA-DQW3, dan golongan darah A. Keloid lebih banyak ditemukan pada orang kulit hitam dibandingkan orang kulit putih di barat. Keturunan Afrika lebih banyak menderita keloid dibandingkan orang kulit putih. Begitu juga dengan Malaysia. Kebanyakan masyarakat India memiliki kulit yang mudah terkena keloid, kedua adalah bangsa Melayu, dan ketiga adalah bangsa Cina.
2. Umur
Keloid umumnya muncul pada anak-anak dan dewasa muda (10-30 tahun). Pria dan wanita tidak memiliki perbedaan dalam memiliki keloid.
3. Jenis dan lokasi trauma
Keloid lebih sering terjadi pada peradangan yang lama sembuh dan pada daerah dengan regangan kulit yang tinggi, misalnya: dada, bahu, leher, kepala, dan tungkai.
4. Vaksinasi
Biasanya vaksinasi BCG akan menimbulkan bekas.

Siapa saja yang mempunyai kecendrungan menderita keloid?
Keloid jarang terjadi pada anak anak dan orang tua. Keloid mudah terjadi pada orang yang mempunyai kulit gelap tetapi tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Pada beberapa kasus, keloid mempunyai kecendrungan diturunkan dari orang tua ke anaknya alias bakat keloid.

Pada bagian tubuh yang mana keloid biasanya tumbuh?
Keloid dapat tumbuh dimana saja, tapi yang paling sering adalah di bagian dada, punggung, bahu dan daun telinga. Jarang sekali keloid tumbuh di bagian wajah kecuali pada bagian bawah mulut.

Apakah keloid dapat dicegah?
Seseorang yang mempunyai bakat keloid atau pernah menderita keloid sebaiknya menghindari luka baik yang disengaja maupun tidak. Jauhi keloid semampunya.

Bagaimana pengobatan keloid?
Beberapa tindakan pengobatan keloid yang sering dilakukan oleh dokter antara lain :
1.Injeksi dengan kortison. Cara ini lumayan aman dan tidak menyakitkan. Injeksi biasanya diberikan sebulan sekali sampai manfaat maksimal diperoleh. Injeksi steroid akan meratakan keloid dengan cara memaksimalkan fungsi pembuluh darah pada daerah keloid.
2.Operasi. Tindakan ini sangat beresiko karena irisan pisau dapat menyebabkan tumbuhnya keloid baru. Beberapa ahli bedah biasanya mengkombinasi pengobatan injeksi kortison dengan pembedahan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
3.Laser. Pengobatan dengan laser terbukti efektif untuk meratakan keloid dan memudarkan warnanya. Sayangnya terapi yang cukup aman dan tidak menyakitkan ini masih jarang digunakan.
4.Salep silikon. Penggunaan salep silikon untuk menutup keloid masih menimbulkan hasil yang beragam. Beberapa ada yang berhasil, namun ada pula yang gagal.
5.Pembekuan. Pembekuan keloid dengan menggunakan nitrogen cair terkadang mampu meratakannya namun efek sampingnya bisa menyebabkan daerah keloid menjadi lebih gelap.
6.Bedah beku (Cryosurgery)
Menggunakan nitrogen cair. Umumnya teknik ini lebih dianjurkan karena kurang menyebabkan nyeri. Tetapi teknik ini hanya bisa diterapkan pada keloid dalam ukuran kecil.
7.Bedah skapel
Merupakan operasi ringan pengambilan keloid dengan menggunakan pisau dan benang khusus. Prognosis pada keloid yang hanya diterapi dengan bedah skapel saja biasanya dapat kambuh kembali (>50%). Biasanya teknik ini akan dikombinasi dengan teknik lain
8.Kompresi
Pemakaian plester yang mengandung hydroactive polyurethane efektif menyamarkan keloid. Terapi ini hanya dilakukan selama 12 jam sehari secara berturut-turut selama 8 minggu.

Bagaimana cara pemberiannya ?
Obat ini diinjeksikan dengan alat suntik yang sesuai langsung ke dalam keloid, dan sangat sedikit yang diabsorbsi ke dalam darah. Injeksi steroid ini mungkin terasa sakit, untuk itu bisa dikurangi sakitnya dengan menempelkan es batu 10 menit sebelum injeksi dilakukan. Dosis yang direkomendasikan adalah berkisar 10-40 mg/ml.



Sampai kapan pengobatan diperlukan?
Injeksi dapat dilakukan berulang dengan interval 4-6 minggu sampai 6-10 bulan. Tentunya dokter akan menentukan dari hasil pengobatannya sampai kapan pengobatan harus dilakukan.

Untuk keloid yang besar, injeksi dapat dilakukan berulangkali (ada yang sampai belasan kali) hingga rata. Itupun masih ada kemungkinan pertumbuhan pada jaringan kecil yang sebelumnya tidak terinjeksi.

Untuk keloid kecil pada umumnya bisa rata setelah injeksi kortikosteroid 3-5 kali.
Injeksi terbaik adalah dengan jarum (needle) no.27G menyusur permukaan keloid. Pastikan keloid berwarna putih agak menggelembung karena masuknya obat. Sekali lagi menyusuri permukaan, bukan injeksi dalam menusuk keloid. Injeksi menusuk ke dalam keloid seringkali menuai kegagalan. Mengapa ? Mungkin terkait dengan jaringan keloid yang secara histopatologis menunjukkan pola seluler.

Injeksi kortikosteroid tidak bisa diberikan pada keloid yang luas, miaslnya karena luka bakar. Pada kasus demikian dapat dipertimbangkan pengobatan cara lain.
Perlu diketahui, bekas keloid tidak lantas hilang, meski sudah dapat diratakan.
Pada kasus yang melibatkan wajah (keloid di wajah), seyogyanya berkonsultasi kepada ahli kulit atau ahli bedah plastik agar didapatkan hasil optimal.

Apakah ada efek samping?
Efek sampingnya relatif kecil, walaupun komplikasi mungkin terjadi pada 1-5 kasus pada sekitar lokasi injeksi, meliputi : penipisan kulit, hipopigmentasi (kulit jadi memutih), dan timbul bercak merah pada kulit (telangiectasia). Jika terjadi gejala-gejala di atas, segera kontak saja dokternya untuk diberi pengatasan selanjutnya.
Namun demikian, perlu diwaspadai juga adanya efek samping sistemik yang mungkin bisa terjadi, jika obatnya terserap masuk ke dalam darah. Beberapa efek sistemik yang dapat terjadi akibat penggunaan steroid antara lain: moon face (wajah membulat seperti bulan), kadar gula meningkat, hipertensi, osteoporosis, dll. Tapi ini umumnya hanya terjadi jika steroid digunakan dalam jangka waktu lama dengan dosis cukup besar dan digunakan secara sistemik (artinya masuk ke pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh). Jika hanya digunakan secara local, seperti pada keloid atau pada obat hirup seperti pada obat asma, efek samping ini dapat diminimalkan.

semoga bermanfaat

Daftar pustaka
Eko Indra P.,dr., http://senseheal.blogspot.com/2009/08/keloid.html
http://id.wikipedia.org
http://cakmoki86.wordpress.com
http://www.tanyadokteranda.com
http://emedicine.medscape.com/article/1057599-treatment
terapi untuk mengatasi keloid , http://zulliesikawati.wordpress.com/tag/keloid/

Senin, 03 Januari 2011

TAHUKAH ANDAN BENTUK FESES (KOTORAN) YG SEHAT ITU???

Tidak semua orang bisa buang air besar setiap hari. Tidak benar bahwa setiap orang harus buang air besar setiap hari secara teratur.Rentang normal buang air besar adalah antara 3 kali dalam sehari sampai 3 kali dalam satu minggu. Orang dianggap menderita konstipasi (susah buang air besar karena kebiasaan yang salah seperti tidak nyaman dengan suasana closet) atau obstipasi (karena feses terlalu keras karena kurang diet yang mengandung serat) terjadi bila buang air besarnya mulai kurang sering ketimbang biasanya.

Seringkali kita cuek tidak pernah memperhatikan feses (kotoran) saat kita buang air besar kan. Mohon maaf mungkin terkesan jorok. Tetapi ini cara yang paling mudah untuk mengetahui apakah kita mengalami gangguan pencernaan atau tidak.

Alat bantu ini menilai seseorang mengalami konstipasi atau normal adalah dengan melihat bentuk feses (tinja). Sebagaimana yang terlihat dalam gambar berikut, dapat dilihat bentuk fesesnya termasuk tipe yang mana. Bila bentuknya termasuk tipe 1 atau 2 maka dapat dikatakan seseorang mengalami konstipasi. Bentuk feses yang sama dengan tipe 3 atau 4 adalah bentuk feses yang normal. Tetapi bila bentuk fesesnya termasuk tipe 5 sampai 7 termasuk dalam kategori diare.



Nah yang masuk dalam tipe 3 dan 4 seringkali bentuknya adalah seperti ini mohon maaf kalau gambarnya jorok.



Materi ini saya ambil dari buku karangan dosen saya..
semoga bermanfaat..

http://menjadidokterpribadi.blogspot.com/2010/07/tahukah-anda-bagaimana-bentuk-feses.html

Rabu, 15 Desember 2010

GELAR KEDOKTERAN

Gelar Kedokteran Sarjana 2
* Sp.A - spesialis anak
* Sp.An - spesialis anastesi
* Sp.And - spesialis andrologi
* Sp.B - spesialis bedah umum
* Sp.B KBD - spesialis bedah (Konsultan Digestif/Pencernaan)
* Sp.B.Onk - spesialis bedah onkologi
* Sp.BA - spesialis bedah anak
* Sp.BO - spesialis bedah orthopedi
* Sp.BM - spesialis bedah mulut (dokter gigi)
* Sp.BP - spesialis bedah plastik
* Sp.BS - spesialis bedah syaraf
* Sp.BU - spesialis bedah urologi
* Sp.F - spesialis kedokteran forensik
* Sp.G - spesialis gizi
* Sp.GK - spesialis gizi klinik
* Sp.JP - spesialis jantung dan pembuluh darah
* Sp.KG - spesialis konservasi gigi (termasuk penambalan dan perawatan urat saraf gigi)(dokter gigi)
* Sp.KGA- spesialis kedokteran gigi anak (dokter gigi)
* Sp.KJ - spesialis kedokteran jiwa atau Psikiater
* Sp.KK - spesialis penyakit kulit dan kelamin (dermatologi)
* Sp.KN - spesialis kedokteran nuklir
* Sp.KO - spesialis kedokteran olahraga
* Sp.KP - spesialis kedokteran penerbangan
* Sp.M - spesialis mata
* Sp.MK - spesialis mikrobiologi klinik
* Sp.Ort - spesialis orthodonti (meratakan gigi)(dokter gigi)
* Sp.OG - spesialis obstetri ginekologi (kebidanan dan kandungan)
* Sp.Ok - spesialis kedokteran okupasi (kerja)
* Sp.OT - spesialis bedah orthopaedi dan traumatologi
* Sp.P - spesialis paru (pulmonologi)
* Sp.Perio - spesialis periodonsia (jaringan gusi dan penyangga gigi)(dokter gigi)
* Sp.PA - spesialis patologi anatomi
* Sp.PD - spesialis penyakit dalam
* Sp.PK - spesialis patologi klinik
* Sp.R - spesialis radiologi
* Sp.RM - spesialis rehabilitasi medik
* Sp.S - spesialis saraf (neurologi)
* Sp.THT-KL - spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher
* Sp.U - Spesialis urologi



Gelar yang bisa ditambahkan:

* K diakhir gelar spesialisasi berarti Konsultan/Spesialis 2/Sub Spesialis
* KAI - “Konsulen Alergi dan Imunologi” (biasanya dimiliki oleh spesialis penyakit dalam)
* KGEH - “Konsulen Gastro Entero Hepatologi” (biasanya dimiliki oleh spesialis penyakit dalam)
* KHOM - “Konsulen Hematologi Onkologi Medik” (biasanya dimiliki oleh spesialis penyakit dalam)
* KKV - khusus kardiovaskuler, misalnya Sp.BTKV (spesialis bedah thorax dan kardiovaskuler)
* KFER - “Konsulen Fertilitilty Endokrinologi Reproduksi” (biasanya dimiliki oleh spesialis kebidanan)
* KFM - “Konsulen Feto Maternal” (dimiliki oleh spesialis kebidanan-kandungan)
* Gelar yang bisa ditambahkan pada spesialis jantung dan spesialis bedah:
o FACC - “Fellow of the American College of Cardiologists”
o FACP - “Fellow of the American College of Physicians”
o FACS - “Fellow of the American College of Surgeons”, menandakan anggota dari “American College of Surgeons”
o FESC - “Fellow of the European Society of Cardiology”
o FICS - “Fellow Of the International College Of Surgious”
o FIHA - “Fellows Indonesian Heart Association”



* Tambahan gelar lainnya:

o DPM - “Doctor of Podiatric Medicine”
o FAAEM - “Fellow of the American Academy of Emergency Medicine”
o FAAFP - “Fellow of the American Academy of Family Physicians”
o FACE - “Fellow of the American College of Endocrinology”
o FACEP - “Fellow of the American College of Emergency Physicians”
o FACFAS - “Fellow of the American College of Foot and Ankle Surgeons”
o FACOG - “Fellow of the American College of Obstetrics and Gynecologists”
o FCCP - “Fellow of the American College of Chest Physicians”


Gelar Magister (S3)

* M.Kes - Magister Kesehatan
* M.Kesja - Magister Kesehatan Kerja
* MARS - Magister Administrasi Rumah Sakit
* MKK - Magister Kedokteran Kerja
* MKK - Magister Kedokteran Klinik

Sabtu, 11 Desember 2010

PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGI IBU HAMIL

TERJADINYA KEHAMILAN
Peristiwa prinsip pada terjadinya kehamilan :
1. Pembuahan / fertilisasi : bertemunya sel telur / ovum wanita dengan sel benih / spermatozoa pria.
2. Pembelahan sel (zigot).hasil pembuahan tersebut.
3. Nidasi / implantasi zigot tersebut pada dinding saluran reproduksi (pada keadaan normal : implantasi pada lapisan endometrium dinding kavum uteri).
4. Pertumbuhan dan perkembangan zigot – embrio – janin menjadi bakal individu baru.
Kehamilan dipengaruhi berbagai hormon : estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, human somatomammotropin, prolaktin dsb.

Human Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon aktif khusus yang berperan selama awal masa kehamilan, berfluktuasi kadarnya selama kehamilan.

Terjadi perubahan juga pada anatomi dan fisiologi organ-organ sistem reproduksi DAN organ-organ sistem tubuh lainnya, yang dipengaruhi terutama oleh perubahan keseimbangan hormonal tersebut.


PERUBAHAN PADA ORGAN-ORGAN SISTEM REPRODUKSI

UTERUS
Tumbuh membesar primer, maupun sekunder akibat pertumbuhan isi konsepsi intrauterin. Estrogen menyebabkan hiperplasi jaringan, progesteron berperan untuk elastisitas / kelenturan uterus.
Taksiran kasar perbesaran uterus pada perabaan tinggi fundus :
- tidak hamil / normal : sebesar telur ayam (+ 30 g)
- kehamilan 8 minggu : telur bebek
- kehamilan 12 minggu : telur angsa
- kehamilan 16 minggu : pertengahan simfisis-pusat
- kehamilan 20 minggu : pinggir bawah pusat
- kehamilan 24 minggu : pinggir atas pusat
- kehamilan 28 minggu : sepertiga pusat-xyphoid
- kehamilan 32 minggu : pertengahan pusat-xyphoid
- 36-42 minggu : 3 sampai 1 jari bawah xyphoid

Iksmus uteri, bagian dari serviks, batas anatomik menjadi sulit ditentukan, pada kehamilan trimester I memanjang dan lebih kuat. Pada kehamilan 16 minggu menjadi satu bagian dengan korpus, dan pada kehamilan akhir di atas 32 minggu menjadi segmen bawah uterus. Vaskularisasi sedikit, lapis muskular tipis, mudah ruptur, kontraksi minimal -> berbahaya jika lemah, dapat ruptur, mengancam nyawa janin dan nyawa ibu.
Serviks uteri mengalami hipervaskularisasi akibat stimulasi estrogen dan perlunakan akibat progesteron (-> tanda Hegar), warna menjadi livide / kebiruan.Sekresi lendir serviks meningkat pada kehamilan memberikan gejala keputihan.

VAGINA / VULVA
Terjadi hipervaskularisasi akibat pengaruh estrogen dan progesteron, warna merah kebiruan (tanda Chadwick).

OVARIUM
Sejak kehamilan 16 minggu, fungsi diambil alih oleh plasenta, terutama fungsi produksi progesteron dan estrogen. Selama kehamilan ovarium tenang/beristirahat. Tidak terjadi pembentukan dan pematangan folikel baru, tidak terjadi ovulasi, tidak terjadi siklus hormonal menstruasi.

PAYUDARA
Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan interstisial payudara. Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan produksi zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak, kolostrum. Mammae membesar dan tegang, terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor. Puting susu membesar dan menonjol. (beberapa kepustakaan tidak memasukkan payudara dalam sistem reproduksi wanita yang dipelajari dalam ginekologi)




PENINGKATAN BERAT BADAN SELAMA HAMIL
Normal berat badan meningkat sekitar 6-16 kg, terutama dari pertumbuhan isi konsepsi dan volume berbagai organ / cairan intrauterin.

Berat janin + 2.5-3.5 kg, berat plasenta + 0.5 kg, cairan amnion + 1.0 kg, berat uterus + 1.0 kg, penambahan volume sirkulasi maternal + 1.5 kg, pertumbuhan mammae + 1 kg, penumpukan cairan interstisial di pelvis dan ekstremitas + 1.0-1.5 kg.

PERUBAHAN PADA ORGAN-ORGAN SISTEM TUBUH LAINNYA
SISTEM RESPIRASI
Kebutuhan oksigen meningkat sampai 20%, selain itu diafragma juga terdorong ke kranial -> terjadi hiperventilasi dangkal (20-24x/menit) akibat kompliansi dada (chest compliance) menurun. Volume tidal meningkat. Volume residu paru (functional residual capacity) menurun. Kapasitas vital menurun.

SISTEM GASTROINTESTINAL
Estrogen dan hCG meningkat dengan efek samping mual dan muntah-muntah, selain itu terjadi juga perubahan peristaltik dengan gejala sering kembung, konstipasi, lebih sering lapar / perasaan ingin makan terus (mengidam), juga akibat peningkatan asam lambung. Pada keadaan patologik tertentu dapat terjadi muntah-muntah banyak sampai lebih dari 10 kali per hari (hiperemesis gravidarum).

SISTEM KARDIOVASKULER
Perubahan fisiologi pada kehamilan normal, yang terutama adalah perubahan HEMODINAMIK maternal, meliputi :
- retensi cairan, bertambahnya beban volume dan curah jantung
- anemia relatif
- akibat pengaruh hormon, tahanan perifer vaskular menurun
- tekanan darah arterial menurun
- curah jantung bertambah 30-50%, maksimal akhir trimester I, menetap sampai akhir kehamilan
- volume darah maternal keseluruhan bertambah sampai 50%
- volume plasma bertambah lebih cepat pada awal kehamilan,
kemudian bertambah secara perlahan sampai akhir
kehamilan

Pada trimester pertama, terjadi :
- penambahan curah jantung, volume plasma dan volume cairan ekstraselular, disertai peningkatan aliran plasma ginjal dan laju filtrasi glomerulus
- penambahan / retensi air dan natrium yang dapat ditukar di dalam tubuh, peningkatan TBW / total body water
- akibatnya terjadi aktifasi sistem renin-angiotensin dan penurunan ambang osmotik untuk pelepasan mediator vasopresin dan stimulasi dahaga.
- akibatnya pula terjadi penurunan konsentrasi natrium dalam plasma dan penurunan osmolalitas plasma, sehingga terjadi edema pada 80% wanita yang hamil.

Terjadi peningkatan volume plasma sampai 25-45%, dengan jumlah eritrosit meningkat hanya sedikit (kadar hemoglobin menurun akibat anemia relatif). Cardiac output meningkat sampai 20-40%. Resistensi perifer juga menurun, sering tampak sebagai varisces tungkai. Leukosit meningkat sampai 15.000/mm3, akibat reaksi antigen-antiibodi fisiologik yang terjadi pada kehamilan. Infeksi dicurigai bila leukosit melebihi 15.000/mm3. Trombosit meningkat sampai 300.000-600.000/mm3, tromboplastin penting untuk hemostasis yang baik pada kehamilan dan persalinan. Fibrinogen juga meningkat 350-750 mg/dl (normal 250-350 mg/dl). Laju endap darah meningkat. Protein total meningkat, namun rasio albumin-globulin menururn karena terjadi penurunan albumin alfa-1, alfa-2 dan beta diikuti peningkatan globulin alfa-1, alfa-2 dan beta. Faktor-faktor pembekuan meningkat.

METABOLISME
Basal metabolic rate meningkat sampai 15%, terjadi juga hipertrofi tiroid. Kebutuhan karbohidrat meningkat sampai 2300 kal/hari (hamil) dan 2800 kal/hari (menyusui). Kebutuhan protein 1 g/kgbb/hari untuk menunjang pertumbuhan janin. Kadar kolesterol plasma meningkat sampai 300 g/100ml. Kebutuhan kalsium, fosfor, magnesium, cuprum meningkat. Ferrum dibutuhkan sampai kadar 800 mg, untuk pembentukan hemoglobin tambahan.

Khusus untuk metabolisme karbohidrat, pada kehamilan normal, terjadi kadar glukosa plasma ibu yang lebih rendah secara bermakna karena :
- ambilan glukosa sirkulasi plasenta meningkat,
- produksi glukosa dari hati menurun
- produksi alanin (salah satu prekursor glukoneogenesis) menurun
- aktifitas ekskresi ginjal meningkat
- efek hormon-hormon gestasional (human placental lactogen, hormon2 plasenta lainnya, hormon2 ovarium, hipofisis, pankreas, adrenal, growth factors, dsb).
Selain itu terjadi juga perubahan metabolisme lemak dan asam amino. Terjadi juga peningkatan aktifitas enzim-enzim metabolisme pada umumnya.

TRAKTUS URINARIUS
Ureter membesar, tonus otot-otot saluran kemih menururn akibat pengaruh estrogen dan progesteron. Kencing lebih sering (poliuria), laju filtrasi meningkat sampai 60%-150%. Dinding saluran kemih dapat tertekan oleh perbesaran uterus, menyebabkan hidroureter dan mungkin hidronefrosis sementara.Kadar kreatinin, urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun namun hal ini dianggap normal.

KULIT
Peningkatan aktifitas melanophore stimulating hormon menyebabkan perubahan berupa hiperpigmentasi pada wajah (kloasma gravidarum), payudara, linea alba (-> linea grisea), striae lividae pada perut, dsb.

PERUBAHAN PSIKIS
Sikap / penerimaan ibu terhadap keadaan hamilnya, sangat mempengaruhi juga kesehatan / keadaan umum ibu serta keadaan janin dalam kehamilannya.

Umumnya kehamilan yang diinginkan akan disambut dengan sikap gembira, diiringi dengan pola makan, perawatan tubuh dan upaya memeriksakan diri secara teratur dengan baik. Kadang timbul gejala yang lazim disebut “ngidam”, yaitu keinginan terhadap hal-hal tertentu yang tidak seperti biasanya (misalnya jenis makanan tertentu, tapi mungkin juga hal-hal lain)

Tetapi kehamilan yang tidak diinginkan, kemungkinan akan disambut dengan sikap yang tidak mendukung, napsu makan menurun, tidak mau memeriksakan diri secara teratur, bahkan kadang juga ibu sampai melakukan usaha-usaha untuk menggugurkan kandungannya.

DIAGNOSTIK KEHAMILAN
Berdasarkan perubahan-perubahan anatomik dan fisiologik, dapat dikumpulkan hal-hal yang mungkin bermakna pada pemeriksaan fisis maupun penunjang, untuk menuju pada diagnosis kehamilan.

Gejala dan tanda yang dapat mengarahkan diagnosis adanya suatu kehamilan :
1. amenorea (sebenarnya bermakna jika 3 bulan atau lebih)
2. pembesaran uterus (tampak disertai pembesaran perut, atau pada kehamilan muda diperiksa dengan palpasi)
3. adanya kontraksi uterus pada palpasi (Braxton-Hicks)
4. teraba/terasa gerakan janin pada palpasi atau tampak pada imaging. Ballotement (+). Jika (-) curiga mola hidatidosa.
5. terdengar jantung janin (dengan alat Laennec/ Doppler) atau visual tampak jantung berdenyut pada imaging (fetal ultrasound echoscopy).
6. teraba bagian tubuh janin pada palpasi (Leopold) atau tampak pada imaging (ultrasonografi)
7. perubahan serviks uterus (Chadwick / Hegar sign)
8. kurva suhu badan meningkat
9. tes urine B-hCG (Pack’s test / GalliMainini) positif. Hati-hati karena positif palsu dapat juga terjadi misal karena urine kotor, alat kadaluwarsa atau cara pemeriksaan yang salah.
10. Titer B-hCG meningkat pada kehamilan sekitar 90 hari, kemudian menurun seperti awal kehamilan, bahkan dapat sampai tidak terdeteksi.
11. perasaan mual dan muntah berulang, morning sickness.
12. perubahan payudara
13. poliuria


daftar pustaka
Perubahan Anatomi dan Fisiologi Wanita Hamil
Kuliah Obstetri Ginekologi
Dr. H. Junizaf / Dr. H.M. Soepardiman
http://harnawatiaj.wordpress.com

PERUBAHAN TUBUH IBU HAMIL TIAP TRIMESTER


Beberapa perubahan pada tubuh ibu hamil di trimester pertama ( 0 – 12 minggu) kehamilan :


PEMBESARAN PAYUDARA
Payudara akan membesar dan kencang, ini karena pada awal pembuahan terjadi peningkatan hormone kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan memberi nutrisi pada jaringan payudara. Sebaiknya persiapkan bra baru yang sesuai dengan ukuran baru untuk memberi kenyamanan dan dapat menyokong payudara ibu.

Dalam 3 bulan pertama ini, ibu akan melihat juga daerah sekitar puting dan putting susu akan bewarna lebih gelap, dan karena terjadi peningkatan persediaan darah keseluruh tubuh maka daerah sekitar payudara akan tampak bayangan pembuluh-pembuluh vena dibawah kulit payudara ibu.

SERING BUANG AIR KECIL
ibu akan merasa lebih sering ingin buang air kecil, ini karena adanya pertumbuhan rahim yang menekan kandung kencing dan perubahan hormonal. Ingat jangan mengurangi pemasukan cairan / minum. untuk mengatasi problem ini karena ibu butuh cairan lebih pada saat hamil ini.

KONSTIPASI
ibu mungkin akan merasa kesulitan untuk buang air besar, hal ini karena peningkatan hormone progesterone yang menyebabkan relaksasi otot sehingga usus kurang efisien, juga Tablet Zat Besi (iron) yang diberikan oleh dokter biasanya memyebabkan masalah konstipasi ini selain itu zat besi tablet akan menyebabkan warna feses menjadi kehitaman, jangan kuatir. Atasilah dengan banyak minum air, makanan yang berserat tinggi (sayuran dan buahan) serta olahraga.

MORNING SICKNESS---MUAL MUNTAH
Laporan menunjukkan bahwa separuh dari wanita hamil mengalami mual dan mulai pada bulan ke dua. Mual terhadap makanan tertentu, bahkan hanya karena mencium bau makanan tertentu saja. Hal ini karena adanya peningkatan hormonal. Atasilah dengan makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah atau porsi besar hanya membuat anda mual. ibu tak perlu kuatir kalau bayi anda tak cukup nutrisi. Di awal kehamilan ini kebanyakan wanita hamil hanya sedikit saja meningkat berat badannya dan ini tidak mempengaruhi perkembangan bayi anda.

Hubungi dokter bila mual-muntah menjadi sangat hebat, sehingga ibu tidak dapat makan atau minum apapun juga dan dapat menimbulkan kekurangan cairan/dehidrasi. (Hiperemesis gravidarum).

MERASA LELAH
ibu akan merasa lelah, hal ini karena tubuh bekerja secara aktif untuk menyesuaikan secara fisik dan emosional untuk kehamilan ini. Juga peningkatan hormonal dapat mempengaruhi pola tidur. Carilah waktu untuk beristirahat sedapat mungkin.

SAKIT KEPALA
ibu mungkin akan merasa sakit kepala yang lebih sering daripada biasa, hal ini mungkin karena rasa mual, kelelahan, lapar, tekanan darah rendah, dan dapat juga karena perasaan tegang atau bahkan depresi. Atasilah dengan beristirahat, dan makanan dengan makan sedikit tapi sering biasanya dapat menolong, relaks.

PUSING
Merasa pusing sering pada awal kehamilan hal ini karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga sewaktu ibu berubah posisi dari tidur atau duduk ke posisi berdiri secara tiba-tiba, system sirkulasi darah kesulitan untuk beradaptasi. Bila rasa pusing tetap timbul ketika ibu sedang duduk, ini biasanya karena menurunnya level gula darah ibu. Makanlah sedikit- sedikit tapi sering. Bila ibu sering merasa seperti ingin pingsan periksalah ke dokter kemungkinan ibu anemia.

KRAM PERUT
Pada trimester awal ini, ibu mungkin mengalami kram perut atau kram seperti menstruasi atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul sebentar dan tidak menetap. Hal ini sering terjadi dan kemungkinan karena adanya pertumbuhan dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligament merenggang untuk menyokong rahim.

Yang harus diingat apabila kram perut yang timbul disertai perdarahan vagina, hubungi dokter segera, karena kedua tanda ini berhubungan dengan keguguran.

MELUDAH
Jangan merasa malu bila ibu merasa air ludah anda menjadi agak berlebih, hal ini biasa terjadi pada kehamilan biasanya pada ibu hamil yang mengalami morning sickness. Ini biasanya timbul pada trimester pertama tapi jarang terjadi. Atasi dengan sikat gigi atau kocok mulut atau isap permen yang mengandung mint.
Mint dipercaya dapat mngurangi air ludah.

EMOSIONAL
Pada trimester awal kehamilan ini juga terjadi mempengaruhi emosional menjadi tak stabil, hal ini karena adanya perubahan hormon dan juga rasa tanggung jawab baru sebagai seorang calon ibu.

PENINGKATAN BERAT BADAN
Pada akhir trimester pertama ini anda akan kesulitan untuk memasang kancing rok/celana panjang ibu. Hal ini karena rahim berkembang dan memerlukan ruang dan ini semua karena pengaruh dari hormone estrogen yang menyebabkan pembesaran rahim dan hormone progesterone yang menyebabkan tubuh menahan air.


Beberapa perubahan yang terjadi pada kehamilan trimester kedua (13-28 minggu):

PERUT SEMAKIN MEMBESAR
Setelah 12 minggu, rahim membesar dan melewati rongga panggul. Pembesaran rahim akan bertumbuh sekitar 1 cm setiap minggu. Pada kehamilan 20 minggu bagian teratas rahim sejajar dengan pusar (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi kebanyakan wanita akan mulai tampak pembesaran perutnya pada kehamilan 16 minggu.

SENDAWA DAN BUANG ANGIN
Pada trimester ini ibu akan bersendawa atau ingin buang angin.Hal ini karena usus merengang dan akan merasa kembung. Atasi dengan jangan makan dalam jumlah besar akan membuat kembung dan tak nyaman, dan hindari makanan yang menyebabkan banyak gas seperti jagung, permen, bawang merah.

PELUPA
Pada beberapa ibu hamil akan menjadi sedikit pelupa selam kehamilannya, Ada beberapa teori tentang hal ini karena tubuh ibu terus bekerja berlebihan untuk perkembangan bayinya sehingga menimbulkan blok pikiran.

RASA NYERI DI ULU HATI
Rasa panas atau terbakar didada bagian bawah atau perut bagian atas tapi tidak ada hubunganya dengan jantung. Hal ini karena asam lambung naik ke kerongkongan. Perasaan ini timbul pada wanita hamil pada trimester kedua ini, hal ini karena hormone progesterone meningkat yang menyebabkan relaksasi dari otot saluran cerna dan juga karena rahim yang semakin membesar yang mendorong bagian atas perut, sehingga mendorong asam lambung naik ke kerongkongan.

Nilai positif dari relaksasi otot saluaran cerna adalah gerakan makanan menjadi lebih lambat sehingga nutrisi terserap lebih banyak.

Atasi dengan jangan makan dalam jumlah besar terutama sebelum mau tidur. Jauhi makanan yang pedas, berminyak dan berlemak. Waktu tidur malam tinggikan posisi kepala sehingga asam lambung tak dapat naik ke esophagus.

PERTUMBUHAN RAMBUT DAN KUKU
Perubahan hormonal menyebabkan kuku akan tumbuh lebih kuat dan tumbuh rambut lebih banyak dan kadang tumbuh ditempat yang tidak diinginkan seperti diwajah atau perut. Tapi tak perlu kuatir rambut yang tak semestinya ini akan hilang setelah bayi lahir

SAKIT DI PERUT BAGIAN BAWAH
Pada kehamilan 18-24 minggu ibu akan merasakan nyeri diperut bagian bawah yang seperti ditusuk atau seperti tertarik disatu atau dua sisi, hal ini karena perenggangan ligamentum dan otor unutk menahan rahim yang semakin membesar. Nyeri hanya sebentar dan tak menetap. Atasi dengan duduk atau berbaring dengan posisi yang nyaman.

PUSING
Pusing menjadi keluhan yang sering selama kehamilan trimester kedua ini hal ini dapat terjadi ketika pembesaran dari rahim anda menekan pembuluh darah besar sehingga menyebabkan tekanan darah menurun. Atasi denga melakukan perpindahan posisi pelahan lahan atau bertahap untuk menghindari perubahan tekanan darah yang mendadak.

MENDENGKUR
Peningkatan aliran darah selama kehamilan akan menyebabkan sesak dan pembengkakan membrane mukosa yang menimbulkan mendengkur saat tidur.

HIDUNG DAN GUSI BERDARAH
Hal ini juga karena peningkatan aliran darah selama masa kehamilan. Kadang juga mengalami sumbatan pada hidung hal ini karena perubahan hormonal.

PERUBAHAN KULIT
Garis kecoklatan mulai dari puser (umbilicus) ke tulang pubis disebut linea nigra.
Kecoklatan pada wajah disebut chloasma atau topeng kehamilan, ini dapat menjadi petunjuk kurang asam folat. Strecth mark terjadi karena perengangan kulit yang berlebih biasanya pada perut dan payudara. Akibat perengangan kulit ini dapat merasa gatal.

PAYUDARA
Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang kekuningan yang disebut colostrums. Putting dan sekitarnya akan semakin bewarna gelap dan besar dan bintik-bintik kecil akan timbul disekitar putting, itu adalah kelenjar kulit..

KRAM PADA KAKI
Kram otot ini timbul karena sirkulasi darah yang lebih lambat saat kehamilan. Atasi dengan menaikkan kaki keatas, minum cukup kalsium. Bila anda terkena kram kaki ketika duduk atau saat tidur, coba untuk menggerakan jari-jari kaki kearah atas.

PEMBENGKAKAN SEDIKIT
Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, hampir 40 % wanita hamil mengalaminya. Hal ini karena peningkatak hormone yang menahan cairan. Pada trimester kedua ini akan tampak sedikit pembengkakan pada wajah, kaki , tangan.


MERASAKAN GERAKAN BAYI ANDA
Pada kehamilan minggu ke 15-22 ibu akan mulai merasakan gerakan bayi anda yang awalnya akan terasa seperti kibasan, tetapi di akhir trimester ini akan benar-benar merasakan pergerakan bayi. Pada ibu yang baru pertama kali sering tidak dapat mengenali gerakan bayinya sampai minggu ke 19-22.

Beberapa perubahan yang terjadi pada kehamilan trimester ke tiga:

SAKIT PUNGGUNG
Sakit pada punggung, hal ini karena anda meningkatnya beban berat yang ibu bawa yaitu bayi dalam kandungan.

Pakailah sepatu tumit rendah; Hindari mengangkat benda yang berat; Berdiri dan berjalan dengan punggung dan bahu yang tegak; Mintalah pertolongan untuk melakukan pekerjaan rumah sehingga anda tak perlu membungkuk terlalu sering; Pakailah kasur yang nyaman.

PAYUDARA
Keluarnya cairan dari payudara yaitu colustrum adalah makanan bayi pertama yang kaya akan protein.

KONSTIPASI
Pada trimester ke tiga ini konstipasi juga karena tekanan rahim yang membesar kedaerah usus selain peningkatan hormone progesterone. Atasi dengan makanan berserat buahan dan sayuran serta minum air yang banyak, serta olahraga.

PERNAFASAN
Pada kehamilan 33-36 banyak ibu hamil akan merasa susah bernafas hal ini karena tekanan bayi yang berada dibawa diafragma menekan paru ibu. Tapi setelah kepala bayi sudah turun ke rongga panggul ini biasanya pada 2-3 minggu sebelum persalinan pada ibu yang pertama kali hamil maka ibu akan merasa lega dan bernafas lebih mudah . Selain itu juga rasa terbakar didada(heart burn) biasanya juga ikut hilang. Karena berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah tulang iga ibu.

SERING KENCING
Pembesaran rahim dan ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan makin menekan kandung kencing.

MASALAH TIDUR
Setelah perut ibu besar, bayi menendang di malam hari dan ibu akan menemukan kesulitan untuk dapat tidur nyenyak. Cobalah untuk menyesuaikan posisi tidur .

VARISES
Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan menekan daerah panggul dan vena di kaki, yang menyebabkan vena menonjol. Dan pada akhir kehamilan kepala bayi juga akan menekan vena daerah panggul.

Angkatlah kaki keatas ketika ibu istirahat atau tiduran; Pakailah celana atau kaos kaki yang dapat mensupport ibu, pakai dipagi hari dan lepaskan ketika anda pergi tidur; Jangan berdiri atau duduk terlalu lama, cobalah untuk berjalan-jalan.

KONTRAKSI PERUT
Braxton-Hicks kontraksi atau kontraksi palsu. Kontraksi berupa rasa sakit yang ringan, tidak teratur, dan hilang bila ibu duduk atau istirahat

BENGKAK
Pertumbuhan bayi akan meningkatkan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki , kadang tangan bengkak juga. Ini disebut edema, disebabkan oleh perubahan hormonal yang menyebabkan retensi cairan.

KRAM KAKI
Ini sering terjadi pada kehamilan trimester ke 2 dan 3, dan biasanya berhubungan dengan perubahan sirkulasi, tekanan pada saraf dikaki atau karena rendahnya kadar kalsium.

CAIRAN VAGINA
Peningkatan cairan vagina selama kehamilan adalah normal. Cairan biasanya jernih, pada awal kehamilan biasanya agak kental dan mendekati persalinan lebih cair.
Yang terpenting adalah tetap menjaga kebersihan anda.


Inilah hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan munculnya dampak psikis yang negative.

1. Menyimak Informasi Seputar kehamilan
Berbagai informasi mengenai kehamilan bisa didapat dari buku, majalah, koran, tabloid,
atau situs kehamilan di internet. Dengan mengetahui akar masalah yang terjadi maka ibu
bisa lebih tenang menghadapi kehamilan. Ibu pun jadi tahu mana yang boleh dan mana
yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, jika tidak berusaha mencari tahu terhadap
perubahan pada dirinya, tak mustahil akan timbul berbagai perasaan yang mungkin saja
sangat mengganggu kondisi psikis.

2. Kontrol Teratur
Kontrol bisa dilakukan pada dokter kandungan. Saat konsultasi, ibu bisa menanyakan tentang perubahan psikis yang dialami. Biasanya, bila ibu perlu penanganan
lebih serius, dokter akan menganjurkan ibu untuk menemui psikolog atau
psikiater yang dapat membantu kestabilan emosi.

3. Perhatian Suami
Perhatian yang diberikan oleh suami bisa membangun kestabilan emosi ibu. Misalnya, ibu bisa saja meminta suami untuk menemaninya berkonsultasi ke dokter atau bidan agar
merasa lebih nyaman karena ada perhatian dari pasangan.

4. Jalin Komunikasi
Jangan pernah menutupi perubahan psikis yang terjadi, tetapi komunikasikanlah hal itu
kepada suami. Dengan begitu diharapkan suami bisa berempati dan mampu memberi dukungan psikologis yang dibutuhkan. Dukungan dari lingkungan, terutama suami, sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi ibu hamil. Sebaliknya, perasaan ibu hamil yang dipendam sendiri tidak akan membawa perubahan. Suami tetap tidak acuh dan masalah ibu jadi berkepanjangan.

5. Beraktivitas
Sangat dianjurkan agar ibu mencari aktivitas apa pun yang dapat meredakan gejolak
perubahan psikis. Bisa dengan menjahit, melukis, bermain musik, atau apa pun. Umumnya, ibu yang aktif di luar rumah bisa mengatasi berbagai perubahan psikisnya tersebut dengan lebih baik.

6. Perhatikan Kesehatan
Tubuh yang sehat akan lebih kuat menghadapi berbagai perubahan, termasuk perubahan
psikis. Kondisi ini bisa terwujud dengan berolahraga ringan dan memperhatikan asupan
gizi. Hindari mengonsumsi makanan yang dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zat-zat aditif, alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi kehamilan.

7. Relaksasi
Bila ingin mendapatkan perasaan yang lebih relaks, ibu bisa mengatasinya dengan
mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian sambil mengatur napas, senam yoga, dan bentuk relaksasi lainnya.

daftar pustaka
Dr.Suririnah- www.infoibu.com

Kamis, 09 Desember 2010

PRIAPISMUS

Pengertian
Priapisme adalah ereksi yang nyeri dan menetap dan tidak berhubungan dengan gairah maupun kepuasan seksual.Penyebab priapisme bisa terjadi pada semua kelompok umur, termasuk bayi baru lahir. Priapisme pada anak-anak biasanya ditemukan pada penderita leukemia. Sel darah putih yang menyumbat atau menghalangi aliran darah dari penis sehingga terjadi priapisme.

Anak-anak yang menderita penyakit sel sabit juga bisa mengalami priapisme. Penyebab priapisme lainnya pada anak-anak adalah trauma, baik pada penisnya sendiri maupun pada daerah di bawah penis (perineum) dan cedera korda spinalis. Pada pria dewasa, penyebab priapisme bisa diketahui bisa juga tidak. Salah satu penyebabnya adalah penyakit sel sabit.

Namun penyebab yang paling sering dari priapisme pada dewasa adalah obat-obat yang disuntikkan seperti; Obat psikosa (torazin, klorpromazin), Obat anti hipertensi (prazosin), marijuana, obat yang digunakan untuk mengobati impotensi, antikoagulan, kokain, kortikosteroid, tolbutamid, trazodon.

Gejala
Gejalanya penyakit ini berupa ereksi disertai nyeri yang terjadi tanpa adanya rangsangan seksual dan berlangsung selama 4 jam atau lebih.

Komplikasi
Beberapa komplikasi meliputi iskemia, penggumpalan darah (trombosis) di penis, dan kerusakan pada pembuluh darah di penis yang dapat menyebabkan impotensi. Dalam kasus-kasus serius kondisi ini dapat menyebabkan gangren, yang kemudian harus ditangani dengan amputasi penis.

Pengobatan
Pengobatan disesuaikan dengan pada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka pemakaian obat segera dihentikan. Jika penyebabnya adalah kerusakan saraf, diberikan obat bius melalui spinal. Bila penyebabnya adalah bekuan darah, dilakukan pembedahan untuk membuang bekuan darah atau untuk membuat bypass agar sirkulasi penis kembali normal.

Bila ereksi telah terjadi selama dua jam, terapi yang dianjurkan adalah pseudoefedrina 120 mg secara oral. Bila sudah empat jam, dianjurkan 120 mg pseudoephedrine lagi. (Therapeutic Guidelines, 2001)

Bila ereksi telah berjalan selama enam jam, seorang tenaga medis harus dihubungi. Terapi pada tahap ini meliputi aspirasi (penyedotan) darah dari corpus cavernosum dengan bius lokal. Bila belum cukup, aspirasi ini harus dilakukan dengan suntikan adrenalina sebagai adjuvant. (Therapeutic Guidelines, 2001)

Bila aspirasi gagal dan pengisian terjadi kembali, bedah bypass (surgical shunts) dicoba. Usaha untuk mengembalikan keadaan ke normal dengan mengalihkan darah dari corpora cavernosa yang mengeras/menegang ke corpus spongiosum (glans penis dan uretra). Langkah pertama dilakukan di bagian distal (ujung), diikuti dengan proksimal (pangkal).

Daftar Pustaka
Therapeutic Guidelines Limited (2001). Therapeutic Guidelines: Endocrinology (2 ed.). North Melbourne: Therapeutic Guidelines Limited. ISSN 1327-9505

Jumat, 26 November 2010

PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA



Pen­dahuluan
Kon­jungtiva adalah mem­bran tipis, lem­bab dan trans­paran yang melapisi bagian putih dari mata (disebut sklera) dan bagian dalam dari kelopak mata. Kon­jungtiva adalah lapisan pelin­dung ter­luar dari bola mata.

Kon­jungtiva meng­an­dung saraf-saraf dan banyak pem­buluh darah kecil. Pem­buluh darah ini biasanya semakin tam­pak jelas (karena biasanya tidak tam­pak pada kon­disi nor­mal) jika mereka mem­besar saat ter­jadi per­adangan pada mata. Oleh karena beberapa hal, pembuluh-pembuluh darah ini bisa men­jadi rapuh, din­ding mereka bisa pecah dengan mudah­nya, meng­hasilkan per­darahan subkon­jungtiva (per­darahan di bawah kon­jungtiva). Per­darahan subkon­jungtiva tam­pak seba­gai plak per­darahan merah terang atau gelap pada sklera.

Penyebab
Kebanyakan per­darahan subkon­jungtiva ter­jadi secara spontan tanpa ada penyebab yang pasti karena per­darahan ini datang dari pem­buluh darah kon­jungtiva. Sering kali orang malah menemukan adanya per­darahan subkon­jungtiva ketika ia ter­bangun di pagi hari ketika ber­cer­min. Kebanyakan per­darahan subkon­jungtiva yang spontan jus­tru diper­hatikan per­tama kali oleh orang lain yang meman­dang mata kita.

Beberapa hal ber­ikut bisa saja meng­hasilkan per­darahan subkon­jungtival yang spontan:

* Ber­sin;
* Batuk;
* Mun­tah;
* Meng­gosok mata;
* Trauma (per­lukaan);
* Tekanan darah tinggi;
* Kelainan per­darahan;
* Atau kelainan medis yang menyebabkan per­darahan atau meng­ham­bat mekanisme pen­jen­dalan darah.

Per­darahan subkon­jungtiva juga dapat ter­jadi bukan secara spontan dan merupakan akibat dari infeksi mata yang parah, trauma ter­hadap kepala atau mata, atau setelah operasi mata atau kelopak mata.

Gejala-Gejala
Lebih banyak tidak ada gejala spesifik yang ber­kaitan dengan suatu per­darahan subkon­jungtiva selain melihat/terlihat darah pada bagian putih mata.

* Sangat jarang orang merasakan nyeri saat per­darahan dimulai. Ketika per­darahan per­tama kali ter­jadi, Anda mung­kin meng­alami rasa tidak nyaman atau “rasa ada sesuatu” di di mata atau di balik kelopak­nya. Ketika per­darahan selesai, beberapa orang masih merasakan iritasi yang sedang atau semata-mata rasa tidak nyaman yang mem­buat dia selalu mem­bawa pikiran­nya untuk meng­amati matanya sendiri.
* Per­darahan sen­diri adalah sesuatu yang pasti, wilayah merah terang yang ber­batas tegas ber­ada di sklera. Dalam area itu biasanya seluruh bagian putih ter­tutupi oleh darah.
* Pada kasus per­darahan subkon­jungtiva yang spontan, tidak ada darah yang keluar dari mata. Semisal Anda menem­pelkan secara halus tisu yang steril pada bola mata, maka tidak ada darah yang menem­pel pada tisu.
* Per­darahan akan tam­pak meluas/membesar dalam 24 jam per­tama setelah onset (per­tama kali ter­jadi) dan secara per­lahan ber­kurang ukuran­nya ber­samaan dengan darah diserap kembali.

Kapan Men­cari Ban­tuan Medis
Silakan hubungi oftal­mologis anda (dok­ter ahli mata) jika per­darahan tidak mem­baik dalam dua minggu atau jika Anda meng­alami per­darahan subkon­jungtiva mul­tipel (di beberapa lokasi atau titik sekaligus).

Juga ketika jika Anda meng­alami per­darahan di kedua mata secara ber­samaan atau jika per­darahan subkon­jungtiva secara kebetulan ter­jadi ber­samaan dengan gejala per­darahan lain­nya seperti mudah lebam/memar, gusi ber­darah, atau keduanya.

Kemudian jangan tunda untuk meng­hubungi oftal­mologis jika Anda meng­alami per­darahan subkon­jungtiva dan Anda juga mengalami:

* Nyeri ber­hubungan dengan perdarahan;
* Per­ubahan dalam pan­dangan (sebagi con­toh, pan­dangan men­jadi kabur, pan­dangan ber­ganda, kesulitan melihat);
* Riwayat gang­guan perdarahan;
* Riwayat tekanan darah tinggi;
* Per­lukaan karena trauma pada mata;

Apa yang Harus Ditanyakan Pada Dokter
Tanyakan pada dok­ter anda sean­dainya belum sem­pat dijelaskan:

* Apakah ada tanda kerusakan pada mata?
* Apakah pada saya akan ter­jadi luka parut atau kehilangan pan­dangan per­manen karena per­darahan subkon­jungtiva ini?
* Apa penyebab per­darahan subkon­jungtiva ini?
* Bagaimana saya bisa mencegahnya?

Pemerik­saan dan Tes
Oftal­mologi akan meng­gali riwayat yang diper­lukan bahkan sebelum ter­jadi per­darahan, dan melakukan pemerik­saan mata. Tekanan darah anda bisa jadi juga diperiksa.

Jika trauma adalah penyebabnya, pemerik­saan lebih teliti dengan slit lamp (mik­ros­kop khusus untuk pemerik­saan mata) akan dilakukan.


Ter­api

Per­awatan Man­diri di Rumah
Biasanya tidak ada ter­api khusus yang diper­lukan. Air mata buatan yang bisa dibeli bebas di apotek bisa diberikan jika ada iritasi sedang.
Peng­gunaan aspirin dan ibup­rofen sebaik­nya dihindari.

Per­awatan Medis
Biasanya tidak ada ter­api medis diper­lukan. Oftal­mologis bisa meresepkan Anda air mata buatan untuk meringankan iritasi yang ada.

Jika per­lukaan ter­kait trauma, Oftal­mologis anda mung­kin perlu memeriksa mata anda guna menemukan kemung­kinan kerusakan pada bagian lain mata.
Yang Diper­hatikan Selanjutnya

Kon­disi ini akan mem­baik dengan sen­dirinya dalam satu atau dua minggu. Biasanya, pemulihan ter­jadi utuh, tanpa adanya masalah jangka pan­jang, sama seperti memar ringan pada kulit. Seperti memar, suatu per­darahan kon­jungtiva dapat ber­ubah warna (lebih sering dari merah men­jadi oranye kemudian kuning) seba­gaimana proses sem­buh­nya. Bedanya karena pada kon­jungtiva lapisan­nya trans­paran, jadi per­ubahan war­nanya tidak mirip pada memar di mana kita melihat melalui kulit.

Sum­ber lain dapat Anda baca meng­enai per­darahan subkon­jungtiva, seperti di situs patien.co.uk atau emedicine.medscape.com yang keduanya masih ber­bahasa Inggris.

Copyright secured by Digip­rove © 2010 Cahya Legawa

Anda diizinkan untuk berbagi (menyalin, mendistribusikan, mengubah bentuk) & mengadaptasi artikel blog ini baik sebagian atau pun keseluruhannya di bawah penggunaan lisensi yang sama (CCA-NC-SA 3.0 Unported) kecuali dinyatakan sebaliknya atau berbeda oleh penulis. Anda diwajibkan menyertakan sumber asli pada salinan dan adaptasi yang Anda karyakan berupa pranala berikut:

Diambil dari: Perdarahan Subkonjungtiva oleh Cahya.

Senin, 07 Juni 2010

TINJAUAN TETANG ADVERSE EVENTS

Layanan kedokteran adalah suatu sistem yang kompleks dengan sifat hubungan antar komponen yang ketat (complex and tightly coupled), khususnya di ruang gawat darurat, ruang bedah dan ruang rawat intensif. Sistem yang kompleks umumnya ditandai dengan spesialisasi dan interdependensi. Dalam suatu sistem yang kompleks, satu komponen dapat berinteraksi dengan banyak komponen lain, kadang dengan cara yang tak terduga atau tak terlihat. Semakin kompleks dan ketat suatu sistem akan semakin mudah terjadi kecelakaan (prone to accident), oleh karena itu praktik kedokteran haruslah dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

Setiap tindakan medis mengandung risiko buruk, sehingga harus dilakukan tindakan pencegahan ataupun tindakan mereduksi risiko. Namun demikian sebagian besar diantaranya tetap dapat dilakukan oleh karena risiko tersebut dapat diterima (acceptable) sesuai dengan “state-of-the-art” ilmu dan teknologi kedokteran.

Risiko yang dapat diterima adalah risiko-risiko sebagai berikut:
1. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya cukup kecil, dapat diantisipasi, diperhitungkan atau dapat dikendalikan, misalnya efek samping obat, perdarahan dan infeksi pada pembedahan, dll.
2. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya besar pada keadaan tertentu, yaitu apabila tindakan medis yang berrisiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh (the only way), terutama dalam keadaan gawat darurat.

Kedua jenis risiko di atas apabila terjadi bukan menjadi tanggung-jawab dokter sepanjang telah diinformasikan kepada pasien dan telah disetujui (volenti non fit injuria). Pada situasi seperti inilah manfaat pelaksanaan informed consent.

Dengan adverse events diartikan sebagai setiap cedera yang lebih disebabkan karena manajemen kedokteran daripada akibat penyakitnya, sedangkan adverse event yang disebabkan suatu error adalah bagian dari preventable adverse events. Error sendiri diartikan sebagai kegagalan melaksanakan suatu rencana tindakan (error of execution; lapses dan slips) atau penggunaan rencana tindakan yang salah dalam mencapai tujuan tertentu (error of planning; mistakes). Di dalam kedokteran, semua error dianggap serius karena dapat membahayakan pasien.

Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya dapat diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu (lihat bagan 1):
a. Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri, tidak berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan dokter.
b. Hasil dari suatu risiko yang tak dapat dihindari, yaitu risiko yang tak dapat diketahui sebelumnya (unforeseeable); atau risiko yang meskipun telah diketahui sebelumnya (foreseeable) tetapi dianggap acceptable, sebagaimana telah diuraikan di atas.
c. Hasil dari suatu kelalaian medik.
d. Hasil dari suatu kesengajaan.

Guna menilai bagaimana kontribusi manusia dalam suatu error dan dampaknya, perlu dipahami perbedaan antara active errors dan latent errors. Active errors terjadi pada tingkat operator garis depan dan dampaknya segera dirasakan, sedangkan latent errors cenderung berada di luar kendali operator garis depan, seperti desain buruk, instalasi yang tidak tepat, pemeliharaan yang buruk, kesalahan keputusan manajemen, dan struktur organisasi yang buruk (lihat bagan 2).

Latent error merupakan ancaman besar bagi keselamatan (safety) dalam suatu sistem yang kompleks, oleh karena sering tidak terdeteksi dan dapat mengakibatkan berbagai jenis active errors. Sebagai contoh adalah sistem pendidikan dokter spesialis yang mahal, pembolehan dokter bekerja pada “banyak” rumah sakit, tidak adanya sistem yang menjaga akuntabilitas profesi (lihat pula bagan di bawah) adalah latent errors yang tidak terasa sebagai error, namun sebenarnya merupakan akar dari kesalahan manajemen yang telah banyak menimbulkan unsafe conditions dalam praktek kedokteran di lapangan. Bila satu saat unsafe conditions ini bertemu dengan suatu unsafe act (active error), maka terjadilah accident. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa penyebab suatu accident bukanlah single factor melainkan multiple factors.
Umumnya kita merespons suatu error dengan berfokus pada active error-nya dengan memberikan hukuman kepada individu pelakunya, retraining dan lain-lain yang bertujuan untuk mencegah berulangnya active errors. Meskipun hukuman seringkali bermanfaat pada kasus tertentu (pada mistakes yang timbul karena kesengajaan), namun sebenarnya tidak cukup efektif. Memfokuskan perhatian kepada active errors akan membiarkan latent errors tetap ada di dalam sistem, atau bahkan mungkin akan terakumulasi, sehingga sistem tersebut semakin mungkin mengalami kegagalan di kemudian hari.

Pendapat yang mengatakan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan desain organisasi dan manajemen yang baik akhir-akhir ini sangat dipercaya kebenarannya. Konsep safety (dalam hal ini patient safety), yang pada mulanya diberlakukan di dalam dunia penerbangan, akhir-akhir ini diterapkan oleh Institute of Medicine di Amerika (dan institusi serupa di negara-negara lain). Keselamatan pasien diartikan sebagai penghindaran, pencegahan dan perbaikan terjadinya adverse events atau freedom from accidental injury. Keselamatan tidak terdapat pada diri individu, peralatan ataupun bagian (departemen, unit), melainkan muncul dari interaksi komponen-komponen dalam sistem. Berasal dari pemahaman ini muncullah konsep human factors yang mempelajari hubungan antar manusia, peralatan yang mereka gunakan dan lingkungan dimana mereka hidup dan bekerja.







Kohn LT, Corrigan JM and Donaldson MS. To err is human, building a safer health system. Washington DC: National Academy Press, 2000, p58-60


POST BY http://www.freewebs.com/pencegahanberperspektifpasien

Jumat, 04 Juni 2010

DEMENSIA

Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan intelek yang progresif setelah mencapai pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur 15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti keruntuhan perilaku dan kepribadian, dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual. Biasanya kondisi ini tidak reversibel, sebaliknya progresif. Diagnosis dilaksanakan dengan pemeriksaan klinis, laboratorlum dan pemeriksaan pencitraan (imaging), dimaksudkan untuk mencari penyebab yang bisa diobati. Pengobatan biasanya hanya suportif. Zat penghambat kolines terasa (Cholinesterase inhibitors) bisa memperbaiki fungsi kognitif untuk sementara, dan membuat beberapa obat antipsikotika lebih efektif daripada hanya dengan satu macam obat saja.

Demensia bisa terjadi pada setiap umur, tetapi lebih banyak pada lanjut usia (l.k 5% untuk rentang umur 65-74 tahun dan 40% bagi yang berumur >85 tahun). Kebanyakan mereka dirawat dalam panti dan menempati sejumlah 50% tempat tidur.


Etiologi dan klasifikasi


* Menurut Umur:
1. Demensia senilis (>65th)
2. Demensia prasenilis (<65th) * Menurut perjalanan penyakit:
• Reversibel
• Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
* Menurut kerusakan struktur otak

Tipe Alzheimer
1. Tipe non-Alzheimer
2. Demensia vaskular
3. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
4. Demensia Lobus frontal-temporal
5. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
6. Morbus Parkinson
7. Morbus Huntington
8. Morbus Pick
9. Morbus Jakob-Creutzfeldt
10. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
11. Prion disease
12. Palsi Supranuklear progresif
13. Multiple sklerosis
14. Neurosifilis
15. Tipe campuran
* Menurut sifat klinis:
o Demensia proprius
o Pseudo-demensia

Tanda dan gejala

* Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak.
* Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
* Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings
* Defisit neurologik motor & fokal
* Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang
* Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia
* Agnosia, apraxia, afasia
* ADL (Activities of Daily Living)susah
* Kesulitan mengatur penggunaan keuangan
* Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian
* Lupa meletakkan barang penting
* Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting
* Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang
* Mudah terjatuh, keseimbangan buruk
* Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi
* Tak dapat makan dan menelan
* Koma dan kematian

Diagnosis
Diagnosis difokuskan pada 3 hal:

* Pembedaan antara delirium dan demensia
* Bagian otak yang terkena
* Penyebab yang potensial reversibel
* Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
* Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
* Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
* Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
* Pencitraan otak amat penting CT atau MRI


Terapi

Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh perlu.

* Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya
* Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.
* Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar

Behavioural and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD)
BPSD perlu dibahas di sini karena merupakan satu akibat yang merepotkan bagi pengasuh dan membuat payah bagi sang pasien karena ulahnya yang amat mengganggu:
Behavioural

Gangguan perilaku
* agitasi
* hiperaktif
* Keluyuran
o Perilaku yang tak adekuat
o Abulia kognitif
o Agresi
+ verbal, teriak
+ fisik
* Gangguan nafsu makan
o Gangguan ritme diurnal
+ Tidur/bangun
o Perilaku tak sopan (social)
+ Perilaku sexual tak sopan
+ Deviasi sexual
+ Piromania

Psychological
* Gangguan afektif
o Anxietas
o lritabilitas
o Gejala depresif.
o Depresi berat
* Labilitas emosional
o Apati
o Sindrom waham & salah-identifikasi
+ Orang menyembunyikan dan mencuri barangnya
+ paranoid, curiga
o Rumah lama dianggap bukan rumahnya
o Pasangan / pengasuh
+ Palsu
+ Tak setia
+ Menelantarkan pasien
+ Cemburu patologik
+ Keluarga/kenalan yang mati masih hidup
o Halusinasi
+ Visual
+ Auditorik
+ Olfaktoriik
+ Raba (haptik)

Faktor resiko yang sering menyebabkan lanjut usia terkena demensia adalah :
• usia,
• riwayat keluarga,
• jenis kelamin perempuan.

Perubahan karakteristik dari demensia adalah :
• Perubahan aktivitas sehari-hari,
• Gangguan kognitif(gangguan daya ingat,bahasa,fungsi visuospasial),
• Perubahan perilaku dan psikis(Behavior-Psycological Changes).

Demensia merupakan suatu penyakit degeneratif primer pada susunan sistem saraf pusat dan merupakan penyakit vaskuler. Di sini akan dibedakan gangguan pada kortikal dan subkortikal.


Kortikal :

- Alzheimer,
- Creutzfedz – jacob,
- Pick disease,
- Afasia, agnosia dan apraksia.


Subkortikal :

- Huntington disease,
- Parkinson disease,
- Hidrosefalus,
- Demensia multiinfark.


Kriteria derajat demensia :

• RINGAN : walaupun terdapat gangguan berat daya kerja dan aktivitas sosial, kapasitas untuk hidup mandiri tetap dengan higiene personal cukup dan penilaian umum yang baik.
• SEDANG : hidup mandiri berbahaya diperlukan berbagai tingkat suportivitas.
• BERAT : aktivitas kehidupan sehari-hari terganggu sehingga tidak berkesinambungan, inkoherensi.

Demensia dapat digolongkan beberapa bentuk yaitu :


A. Demensia Tipe Alzheimer


Dari semua pasien dengan demensia, 50 – 60 % memiliki demensia tipe ini. Orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit ini adalah Alois Alzheimer sekitar tahun 1910. Demensia ini ditandai dengan gejala :
• Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
• Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia, gangguan fungsi eksekutif,
• Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
• Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
• Kehilangan inisiatif.

Faktor resiko penyakit Alzheimer :
• Riwayat demensia dalam keluarga
• Sindrom down
• Umur lanjut
• Apolipoprotein, E4

Faktor yang memberikan perlindungan terhadap alzheimer :
• Apolipoprotein E, alele 2,
• Antioxidans,
• Penggunaan estrogen pasca menopause, (pada demensia tipe ini lebih sering pada wanita daripada laki-laki)
• NSAID

Demensia pada penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti penyebabnya,walaupun pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi post mortem telah ditemukan lose selective neuron kolinergik yang strukturnya dan bentuk fungsinya juga terjadi perubahan.
• Pada makroskopik : penurunan volume gyrus pada lobus frontalis dan temporal.
• Pada mikroskopik : plak senilis dan serabut neurofibrilaris

Kerusakan dari neuron menyebabkan penurunan jumlah neurotransmiter. Hal ini sangat mempengaruhi aktifitas fisiologis otak.

Tiga neurotransmiter yang biasanya terganggu pada Alzheimer adalah asetilkolin, serotorin dan norepinefrin. Pada penyakit ini diperkirakan adanya interaksi antara genetic dan lingkungan yang merupakan factor pencetus. Selain itu dapat berupa trauma kepala dan rendahnya tingkat pendidikan.

Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya deteorisasi intelektual :

Stadium I (amnesia)
• Berlangsung 2-4 tahun
• Amnesia menonjol
• Gangguan : - Diskalkulis
• Memori jangka penuh
• Perubahan emosi ringan
• Memori jangka panjang baik
• Keluarga biasanya tidak terganggu

Stadium II (Bingung)
• Berlangsung 2 – 10 tahun
• Kemunduran aspek fungsi luhur (apraksia, afasia, agnosia, disorientasi)
• Episode psikotik
• Agresif
• Salah mengenali keluarga

Stadium III (Akhir)
• Setelah 6 - 12 tahun
• Memori dan intelektual lebih terganggu
• Akinetik
• Membisu
• Inmontinensia urin dan alvi
• Gangguan berjalan

Pedoman diagnostik menurut WHO (ICD-X)
• Lupa kejadian yang baru saja dialami,
• Kesulitan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari,
• Kesulitan dalam berbahasa,
• Diserorientasi waktu dan tempat,
• Tidak mampu membuat pertimbangan dan keputusan yang tepat,
• Kesulitan berpikir abstrak,
• Salah menaruh barang,
• Perubahan suasana hati,
• Perubahan perilaku / kepribadian,
• Kehilangan inisiatif.

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan / pencegahan hanya dalam bentuk paliatif yaitu : nutrisi tepat, latihan, pengawasan aktifitas, selain itu bisa diberikan obat Memantine (N-metil) 25 mg/hr, propanolol (InderalR), Holoperidol dan penghambatan dopamin potensi tinggi untuk kendali gangguan eprilaku akut. Selain itu bisa diberikan “Tracine Hydrocloride” (Inhibitor asetilkolinesterose kerja sentral) untuk gangguan kognitif dan fungsionalnya.

Pencegahan antara lain bagaimana cara kita lebih awal untuk mendeteksi AD (Alzheimer Disease) serta memperkirakan siapa yang mempunyai faktor resiko terkena penyakit ini sehingga dapat dicegah lebih awal. Pencegahan dapat juga berupa perubahan dari gaya hidup (diet, kegiatan olahraga, aktivitas mental)

Tujuan penanganan Alzheimer :
• Mempertahankan kualitas hidup yang normal
• Memperlambat perburukan
• Membantu keluarga yang merawat dengan memberi informasi yang tepat
• Menghadapi kenyataan penyakit secara realita


B. Demensia Vaskuler

Penyakit ini disebabkan adanya defisit kognitif yang sama dengan Alzheimer tetapi terdapat gejala-gejala / tanda-tanda neurologis fokal seperti :
• Peningkatan reflek tendon dalam,
• Respontar eksensor,
• Palsi pseudobulbar,
• Kelainan gaya berjalan,
• Kelemahan anggota gerak.

Demensia vaskuler merupakan demensia kedua yang paling sering pada lansia, sehingga perlu dibedakan dengan demensi Alzheimer.

Pencegahan pada demensia ini dapat dilakukan dengan menurunkan faktor resiko misalnya ; hipertensi, DM, merokok, aritmia. Demensia dapat ditegakkan juga dengan MRI dan aliran darah sentral.

Pedoman diagnostik penyakit demensia vaskuler :
• Terdapat gejala demensia
• Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata
• Onset mendadak dengan adanya gejala neurologis fokal

C. Demensia Pick
Penyakit Pick disebabkan penurunan fungsi mental dan perilaku yang terjadi secara progresif dan lambat. Kelainan terdapat pada kortikal fokal pada lobus frontalis. Penyakit ini juga sulit dibedakan dengan Alzheimer hanya bisa dengan otopsi, dimana otak menunjukkan inklusi intraneunoral yang disebut “badan Pick” yang dibedakan dari serabut neurofibrilaris pada Alzheimer.

Pedoman diagnostik penyakit demensia penyakit Pick
• Adanya gejala demensia yang progresif.
• Gambaran neuropatologis berupa atrofi selektif dari lobus frontalis yang menonjol disertai euforia, emosi tumpul, dan perilaku sosial yang kasar, disinhibisi, apatis, gelisah.
• Manifestasi gangguan perilaku pada umumnya mendahului gangguan daya ingat.

D. Demensia Penyakit Creutzfeldt – Jacob
Penyakit ini disebabkan oleh degeneratif difus yang mengenai sistim piramidalis dan ekstrapiramidal. Pada penyakit ini tidak berhubungan dengan proses ketuaan. Gejala terminal adalah :
• Demensia parah.
• Hipertonisitas menyeluruh.
• Gangguan bicara yang berat.

Penyakit ini dsiebabkan oleh virus infeksius yang tumbuh lambat. (misal transplantasi kornea). Trias yang sangat mengarah pada diagnosis penyakit ini :
• Demensia yang progresif merusak.
• Penyakit piramidal dan ekstrapiramidal dengan mioklonus.
• Elektroensephalogram yang khas.


E. Demensia karena Penyakit Huntington

Demensia ini disebabkan penyakit herediter yang disertai dengan degenoivasi progresif pada ganglia basalis dan kortex serebral. Transmisi terdapat pada gen autosomal dominan fragmen G8 dari kromosom 4. Onset terjadi pada usia 35 – 50 tahun.
Gejalanya :
• Demensia progresif.
• Hipertonisitas mascular.
• Gerakan koreiform yang aneh.

F. Demensia karena Hidrosefalus Tekanan Normal
Pada demensia tipe ini terdapat pembesaran vertrikel dengan meningkatnya cairan serebrospinalis, hal ini menyebabkan adanya :
• Gangguan gaya jalan (tidak stabil, menyeret).
• Inkontinensia urin.
• Demensia.


G. Demensia karena Penyakit Parkinson

Demensia ini disebabkan adanya penyakit parkinson yang menyertai dengan gejala :
• Disfungsi motorik.
• Gangguan kognitif / demensia bagian dari gangguan.
• Lobus frontalis dan defisit daya ingat.
• Depresi.

Terapi :
• Neurotransmiter dopaminergik (L-Dopa).
• Amantadine (symnetral R).
• Bromocriptine (Parlodel R).

Membedakan Delirium Dengan Demensia
Delirium
Terjadi secara tiba-tiba
Berlangsung selama beberapa minggu
Berhubungan dengan pemakaian obat atau gejala putus obat, penyakit berat, kelainan metabolisme
Hampir selalu memburuk di malam hari
Tidak mampu memusatkan perhatian
Kesiagaan berfluktuasi dari letargi menjadi agitasi
Orientasi terhadap lingkungan bervariasi
Bahasanya lambat, seringkali tidak dapat dimengerti & tidak tepat
Ingatannya bercampur baur, linglung
Demensia
Terjadi secara perlahan
Bisa menetap
Bisa tanpa penyakit
Sering bertambah buruk di malam hari
Perhatiannya 'mengembara'
Kesiagaan seringkali berkurang
Orientasi terhadap lingkungan terganggu
Kadang mengalami kesulitan dalam menemukan kata-kata yg tepat


DIAGNOSA

Diagnosis demensia ditegakkan berdasarkan penilaian menyeluruh, dengan memperhatikan usia penderita, riwayat keluarga, awal dan perkembangan gejala serta adanya penyakit lain (misalnya tekanan darah tinggi atau kencing manis).

Dilakukan pemeriksaan kimia darah standar.
Pemeriksaan CT scan dan MRI dimaksudkan untuk menentukan adanya tumor, hidrosefalus atau stroke.

Jika pada seorang lanjut usia terjadi kemunduran ingatan yang terjadi secara bertahap, maka diduga penyebabnya adalah penyakit Alzheimer.
Diagnosis penyakit Alzheimer terbukti hanya jika dilakukan otopsi terhadap otak, yang menunjukkan banyaknya sel saraf yang hilang. Sel yang tersisa tampak semrawut dan di seluruh jaringan otak tersebar plak yang terdiri dari amiloid (sejenis protein abnormal).
Metode diagnostik yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini adalah pemeriksaan pungsi lumbal dan PET (positron emission tomography), yang merupakan pemerisaan skening otak khusus.


PENGOBATAN

Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
Obat takrin membantu penderita dengan penyakit Alzheimer, tetapi menyebabkan efek samping yang serius.

Takrin telah digantikan oleh donepezil, yang menyebabkan lebih sedikit efek samping dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer selama 1 tahun atau lebih.
Ibuprofen juga bisa memperlambat perjalanan penyakit ini.
Obat ini paling baik jika diberikan pada stadium dini.

Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.

Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi.

Jika didiagnosis secara dini, maka demensia karena hidrosefalus bertekanan normal kadang dapat diatasi dengan membuang cairan yang berlebihan di dalam otak melalui selang drainase (shunting).

Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikosa (misalnya tioridazin dan haloperidol). Tetapi obat ini kurang efektif dan menimbulkan efek samping yang serius.
Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada penderita yang mengalami halusinasi atau paranoia.

Membantu penderita demensia dan keluarganya:
1. Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi.
2. Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada penderita yang senang berjalan-jalan.
3. Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita.
4. Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu, bahkan akan memperburuk keadaan.
5. Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan perawatan, akan sangat membantu.


PROGNOSIS

Perkembangan demensia pada setiap orang berbeda.
Demensia karena AIDS biasanya dimulai secara samar tetapi berkembang terus selama beberapa bulan atau tahun.
Sedangkan demensia karena penyakit Ceutzfeldt-Jakob biasanya menyebabkan demensia hebat dan seringkali terjadi kematian dalam waktu 1 tahun.

Pada sebagian besar demensia stadium lanjut, terjadi penurunan fungsi otak yang hampir menyeluruh.
Penderita menjadi lebih menarik dirinya dan tidak mampu mengendalikan perilakunya. Suasana hatinya sering berubah-ubah dan senang berjalan-jalan (berkelana).
Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan kemampuan berbicara.


PENCEGAHAN

Meskipun penelitian masih berlangsung, Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah atau menunda terjadinya demensia.
1. Jagalah agar pikiran Anda aktif. Kegiatan merangsang secara mental dapat meningkatkan kemampuan Anda untuk menangani atau mengkompensasi perubahan yang berhubungan dengan demensia. Ini mencakup hal-hal seperti teka-teki dan permainan kata, belajar bahasa, bermain alat musik, membaca, menulis, melukis atau menggambar. Tidak hanya kegiatan ini dapat menunda mulainya dementia, tetapi juga dapat membantu menurunkan efek - semaikn sering aktivitas, semakin memberi efek menguntungkan.
2. Jadilah aktif secara fisik dan sosial. Fisik dan kegiatan sosial dapat menunda mulainya dementia dan juga mengurangi gejala. Semakin sering aktivitas, semakin signifikan efeknya. Contoh aktivitas fisik berjalan kaki, berenang dan menari. Kegiatan sosial meliputi perjalanan, menonton teater dan pameran seni, dan bermain kartu atau permainan.
3. Turunkan kadar homosistein Anda. Penelitian awal menunjukkan bahwa tiga dosis tinggi vitamin B - asam folat, B-6 dan B-12 - membantu menurunkan kadar homosistein dan berguna untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer.
4. Turunkan kadar kolesterol Anda. Endapan yang terjadi dalam otak orang-orang dengan kolesterol tinggi merupakan salah satu penyebab demensia vaskular. Jadi, menurunkan kadar kolesterol Anda dapat membantu mencegah kondisi ini. Statin obat-obatan, yang membantu menurunkan kadar kolesterol, juga dapat membantu menurunkan risiko berkembangnya demensia.
5. Kendalikan diabetes. Mengontrol diabetes dapat mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.
6. Menurunkan tekanan darah Anda. Menjaga tekanan darah pada tingkat normal dapat secara signifikan mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.
7. Kejarlah pendidikan. Orang-orang yang telah menghabiskan lebih banyak waktu di pendidikan formal tampaknya memiliki insiden lebih rendah dari penurunan mental, bahkan ketika mereka memiliki kelainan otak. Para peneliti berpendapat bahwa pendidikan dapat membantu Anda mengembangkan jaringan sel saraf otak yang kuat yang mengkompensasi kerusakan sel saraf yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer.
8. Pertahankan pola makan yang sehat. Diet yang sehat adalah penting karena berbagai alasan, tetapi studi menunjukkan bahwa makanan yang kaya buah-buahan, sayuran dan omega-3 asam lemak, umumnya ditemukan di ikan dan kacang-kacangan tertentu, dapat memiliki efek perlindungan dan menurunkan resiko terkena demensia.
9. Dapatkan vaksinasi. Mereka yang menerima vaksinasi untuk influenza, tetanus, difteri dan polio tampaknya secara signifikan mengurangi risiko penyakit Alzheimer, jadi tetap jalani vaksinasi Anda dapat memiliki efek perlindungan terhadap berkembangnya demensia.